Travelling to Singapore

“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

Singapura merupakan negara tetangga kita yang umumnya menjadi tujuan wisata luar negeri bagi traveller pemula. Begitu pula dengan saya yang belum pernah menjelajahi negara lain. Sempat hanya menjadi rencana sejak satu setengah tahun yang lalu, setelah melalui tarik ulur dengan teman-teman yang lain, akhirnya diputuskan Januari ini untuk pergi berwisata ke singapura. Keputusan ini muncul tak lama setelah melihat iklan promo tiket pesawat 😀

Berikut merupakan travel itinerary wisata kami. Rencana ini kami susun berdasarkan rute yang dilalui oleh bis dan MRT. Objek wisata yang kami tuju semuanya tidak berbayar alias Gratis 😀

Bagi anda yang ingin tau seputar budget, objek wisata, makanan, dan bagaimana liburan ala-ala kami selama 3 hari 2 malam di Singapura, simak cerita lengkap di bawah ini.

1. Persiapan

Pembuatan Paspor

Mengingat kami semua belum memiliki paspor, maka kami segera mengurus di Kantor Imigrasi Kelas I Denpasar. Pembuatan paspor sangat mudah dan simple karena sebelumnya kami memanfaatkan aplikasi antrian online milik Ditjen Imigrasi. Cukup download aplikasi tersebut di Google Play Store, kemudian isi data diri, pilih kantor imigrasi, dan terakhir pilih hari/tanggal yang tersedia untuk pembuatan paspor. Aplikasi akan menampilkan jam berapa kita harus datang ke kantor imigrasi pada tanggal tersebut untuk membuat paspor. Biaya pembuatan paspor biasa 48 halaman adalah Rp 355.000,-

Pasport

Booking Tiket Pesawat

Setelah urusan paspor selesai, kami membooking tiket pesawat Denpasar-Singapura milik maskapai Air*sia. Kebetulan sebelumnya kami sudah melihat ada tiket promo pada maskapai tersebut melalui akun promo tiket Instagram dan Line dengan harga Rp 1.450.000,- per orang untuk pulang pergi 3 hari. Tiket tersebut tidak termasuk bagasi. Saya memesan tiket tersebut untuk 8 orang. Beberapa hari setelahnya, saya iseng mengecek harga tiket, ternyata harganya turun menjadi Rp 1.200.000,-. Seandainya lebih sabar dalam memburu tiket promo, mungkin kami bisa mendapatkan harga yang lebih murah tersebut 🙁

Booking Penginapan

Selanjutnya memesan penginapan melalui aplikasi daring Tra*eloka. Setelah mempertimbangkan harga, review, sarapan, dan lokasi, kami memutuskan untuk memilih 7 Wonder Hostel yang berada di daerah Jalan Besar. Hostel ini bertipe kapsul, dimana 1 kamar besar terdiri dari banyak bed bertingkat sehingga kita akan satu kamar dengan tamu-tamu hotel yang lain. Dengan harga per bed per malam adalah Rp 495.000,- untuk 2 orang, saya rasa hotel ini termasuk “murah” untuk kategori hotel di pinggir jalan raya di Singapura. Pasalnya, hostel ini berlokasi cukup strategis karena berada tepat di depan halte bus sehingga memudahkan kami untuk berpergian kemana-mana. Hostel juga menyediakan sarapan pagi sehingga menghemat pengeluaran kami nantinya di Singapura.

Tampak Depan Hostel
Lorong antar bed. Setiap bed ditutupi tirai.
1 Bed untuk 2 orang, tidak terlalu luas

Menukar Uang

Mengingat di Singapura menggunakan mata uang SGD (Singapore Dollar), maka kami menukar uang rupiah ke SGD di money changer. Saya sempat mensurvei nilai tukar beberapa money changer di seputaran Kota Denpasar, dan saya menemukan money changer yang berada di lantai 1 Mall Ram*yana adalah termurah, yaitu SGD 1 = Rp 10.455,-. Saya menukar uang sebanyak SGD 100 untuk wisata 3 hari 2 malam.

2. Keberangkatan

Take off

Karena pesawat take off pukul 07.15, maka saya sudah berangkat ke Bandara Ngurah Rai Bali pada pukul 04.30. Berangkat pagi dimana jalanan sangat sepi membuat saya cepat tiba di Bandara. Suasana Terminal Keberangkatan Internasional masih cukup sepi sehingga saya tidak perlu antri untuk pemeriksaan barang-barang awal. Selain itu, saya hanya membawa 1 koper kecil sehingga tidak memerlukan bagasi.

Tanpa menggunakan fasilitas bagasi membuat semua tas atau koper yang akan dibawa masuk ke kabin pesawat harus diperiksa secara detail. Teman saya cukup apes karena parfum miliknya harus disita dan dibuang oleh petugas bandara karena di dalam kabin pesawat tidak diperkenankan membawa cairan. Botol minuman yang saya bawa dari rumah juga terpaksa saya minum untuk menghabiskan airnya, jadi hanya botolnya saja yang boleh masuk ke dalam tas.

Penting untuk membawa botol kosong ke Singapura karena harga barang (termasuk air mineral) disana cukup mahal, jadi untuk menghemat bujet, cukup bawa botol kosong besar karena di bandara Singapura ada banyak tap water yang bisa diambil airnya untuk disimpan dan diminum secara gratis

Maskapai pesawat Air*sia sangat tepat waktu sehingga kami sudah take off tepat pukul 07.15. Perjalanan ke Singapura memakan waktu hampir 3 jam. Tips: bawalah majalah atau bacaan agar tidak bosan di pesawat, hehee

Landing di Changi Airport

Begitu tiba di Changi Airport Terminal 4, kita harus mengisi formulir kedatangan secara lengkap yang akan diperiksa di bagian imigrasi. Awalnya, karena kurang paham, saya sempat mengosongkan beberapa isian pada formulir tersebut. Ketika masuk ke antrian di bagian pemeriksaan imigrasi, formulir tersebut benar-benar dicek detail satu per satu sehingga saya diminta untuk balik lagi mengisi isian yang masih kosong. Untungnya petugas bisa berbahasa Indonesia (tepatnya bahasa melayu) sehingga mempermudah komunikasi.

Pengisian formulir

Membeli EZ Link Card

Untuk mempermudah dan menghemat biaya transportasi di Singapura, kami membeli kartu EZ Link. Kartu ini menyimpan saldo yang nantinya akan digunakan untuk membayar ongkos bus atau MRT dengan cara menyentuhkan kartu pada card reader yang telah disediakan. Sangat praktis dan hemat. Saya membeli EZ Link Card di salah satu konter yang ada pada Changi Airport dengan harga SGD 10 (sudah termasuk saldo SGD 5). Karena saya rasa kurang, saya men-top up saldo tersebut sebesar SGD 10 sehingga total saldo yang saya miliki sebesar SGD 15. Top up bisa dilakukan di stasiun MRT yang ada di Terminal 2 Changi Airport.

Dibandingkan naik taksi atau grab car, menggunakan transportasi umum seperti bus atau MRT sangat menghemat biaya. Sebagai contoh, dari Airport menuju Bugis dengan menggunakan grab car menghabiskan biaya SGD 18, sedangkan jika menggunakan MRT biayanya hanya sekitar SGD 1.71. Selain itu, frekuensi kedatangan kereta MRT atau bus sangat sering sehingga kita tidak perlu menunggu terlalu lama.

Penampakan kartu M1 (atas) dan kartu EZ Link (bawah)

Membeli SIM Card M1

Untuk kemudahan komunikasi dan internet selama di Singapura, lebih baik kita mengganti SIM Card Indonesia dengan kartu SIM yang disediakan di Singapura. Pilihan saya jatuh pada provider M1 yang menyediakan kartu SIM seharga SGD 12 dengan kuota internet 100GB. Sayangnya, kartu ini hanya bisa dibeli di toko 7 Eleven (yang berlokasi di Terminal 1 Changi Airport) sehingga kami harus berjalan kaki untuk pergi ke Terminal 1 dari Terminal 4. Untungnya ada fasilitas bus bandara dan sky train bandara yang bisa digunakan secara gratis untuk berpindah dari satu terminal ke terminal yang lain. Cukup ikuti papan petunjuk informasi yang ada di bandara untuk menuju Terminal 1.

Sebenarnya di Terminal 4 juga banyak yang menjual kartu SIM M1 dan juga provider yang lain, namun harga kartu perdana yang dijual lebih mahal dengan kuota internet yang jauh lebih besar. Karena menurut saya paket 100GB sudah lebih dari cukup, maka saya rela berjalan jauh demi menemukan toko yang menjual kartu perdana seharga SGD 12. Untuk lebih hemat, saya hanya membeli 1 kartu untuk berdua dimana smartphone saya harus terus dalam mode tethering untuk berbagi internet.

Menuju MRT Station

Setelah selesai urusan membeli EZ Link dan SIM Card, kami mulai bergerak menuju stasiun MRT. Ternyata stasiun MRT di Changi Airport terletak di Terminal 2 sehingga kami kembali harus berjalan kaki dan menaiki sky train bandara untuk berpindah dari Terminal 1. Stasiun MRT terletak di bawah tanah. Siapkan kartu EZ Link yang sudah dibeli tadi untuk di-tap di pintu masuk keberangkatan stasiun. Jika saldo EZ Link kurang dari SGD 3, maka pintu tidak akan terbuka sehingga kita harus men-top up saldo terlebih dahulu di sebuah mesin topup yang ada di dekat pintu masuk stasiun.

Tap kartu EZ Link di pintu kecil berpanah hijau ini untuk masuk ke kereta MRT

Menuju Bugis Junction

Karena pada saat naik MRT di atas, waktu menunjukkan pukul 11.30 sementara waktu check-in hostel baru bisa dilakukan pukul 14.00, maka kami memutuskan untuk jalan-jalan terlebih dahulu di Bugis Junction, dimana tempat ini merupakan tempat wisata belanja yang cukup murah. Dari Stasiun Changi Airport kami naik MRT (hanya ada 1 rute MRT di airport) dan turun di Stasiun Tanah Merah. Selanjutnya, dari Stasiun Tanah Merah kami naik kereta East Wes Line (warna hijau) tujuan Tuas Link dan turun di Stasiun Bugis.

Peta rute kereta MRT yang selalu dipajang di semua stasiun MRT

Untuk mempercepat pencarian rute MRT atau Bus di Singapura, saya menggunakan aplikasi Moovit yang bisa di-download melalui Google Play Store atau App Store. Aplikasi ini bisa menuntun kita naik bis apa dan naik MRT yang mana ketika kita ingin berpindah dari lokasi kita saat ini (misalnya Changi Airport) menuju suatu tempat (misalnya Bugis Junction). Kami sendiri merasa sangat terbantu dengan aplikasi ini, terutama ketika kita naik bis karena di halte tidak ada informasi rute bis.

Setelah tiba di Stasiun Bugis, kami keluar dari kereta dan menge-tap kembali kartu EZ Link di dekat pintu keluar stasiun. Pada saat menge-tap di pintu keluar, saldo kartu otomatis dipotong sebesar SGD 1.71. Jumlah ini dihitung berdasarkan jarak dari stasiun tempat menge-tap di pintu masuk (Stasiun Changi Airport) dengan stasiun tempat menge-tap di pintu keluar (Stasiun Bugis).

3. Hari Pertama di Singapura

Tiba di Bugis Junction

Ketika keluar dari stasiun MRT Bugis, ada beberapa pintu keluar (kalau tidak salah ada 4 jalur keluar) sehingga kalau salah memilih jalur keluar anda akan bingung sendiri :D. Kami mengalaminya karena kami salah memilih jalur, dimana maunya mencari pintu keluar ke arah jalan raya malah yang didapatkan jalur keluar ke arah dalam mall Bugis. Jadi, kami bingung berada dimana, di lantai berapa, dan bagaimana cara keluar dari mall Bugis ini. Suasana mall yang sangat ramai, rumitnya komplek mall yang terdiri dari beberapa gedung, dan ditambah kami membawa beberapa tas dan koper cukup membuat kami pusing 🙁

Setelah berjalan kesana kemari, akhirnya kami bisa keluar dan melihat jalan raya. Dari sana baru terlihat beberapa titik tujuan kami, yaitu Bugis Junction (mungkin mirip pasar tanah abang), dimana disana dijual beraneka barang unik dan khas Singapura dengan harga yang cukup “murah” dibanding di tempat lain di Singapura. Disana pula kami makan siang di salah satu food court. Ternyata di food court tersebut (dan hampir semua food court di Singapura) melarang membawa makanan dan minuman dari luar, artinya harus membeli di sana. Teman saya beberapa kali terkena peringatan dari pelayan karena membawa minuman botol yang dibawa dari Bali 🙁

Rata-rata harga makanan di sini sekitar SGD 4 – SGD 5 dan harga minuman sekitar SGD 1 – SGD 3. Menu makanan dan minumannya hampir sama seperti di Indonesia, seperti nasi, ayam goreng, telur, es teh, dll.

Suasana di daerah Bugis

Check-in di Hostel

Setelah berkeliling di Bugis Junction, kami menuju 7 Wonder Hostel dengan menggunakan bis. Di dekat Bugis Junction sudah ada beberapa halte, jadi kita cukup menunggu bis di sana. Melalui informasi yang diberikan aplikasi Moovit, untuk menuju hostel, kita perlu naik bis nomor 130 dan turun di halte di Jalan Besar. Saat bis datang, kita naik melalui pintu depan, dan menge-tap kartu EZ Link pada card reader yang disediakan. Begitu halte tujuan kita tiba, kita turun melalui pintu tengah bis, dan menge-tap kembali kartu EZ Link pada card reader yang disediakan.

Suasana di dalam bis

Perlu diingat: Jangan sampai lupa menge-tap kartu karena secara otomatis kartu EZ Link akan memotong saldo sendiri sebanyak tarif rute terjauh dari bis tersebut. Teman saya sudah mengalaminya 😀

Wisata di Merlion Park dan sekitarnya

Setelah selesai beristirahat dan mandi di hostel, kami bersiap-siap menuju Merlion Park, patung singa yang menjadi icon andalan Singapura. Dari hostel kami menunggu bis di halte yang berada di seberang jalan. Kami menunggu bis nomor 130 dan turun di halte di depan National Gallery Singapore. Dari sana kami berjalan kaki menuju Merlion Park dengan jarak sekitar 5 menit berjalan kaki. Di sepanjang perjalanan ada banyak tempat atau spot foto yang cukup bagus sehingga kami tidak terburu-buru menuju Merlion Park, lebih banyak berhenti sambil berfoto-foto.

Di depan Victoria Concert Hall
Berjalan kaki menuju Merlion Park
Sisi Anderson Bridge

Untungnya cuaca pada saat sore itu tidak terlalu terik sehingga kami bisa menikmati perjalanan. Tiba di Merlion Park, ada banyak sekali wisatawan yang bersantai dan berfoto.

Merlion Park
Marina Bay

Makan Malam di Bugis Junction

Puas menikmati landscape indah Singapura, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Perut pun mulai lapar. Kami memutuskan untuk makan malam di Bugis Junction sembari berburu kembali barang atau makanan khas yang bisa menjadi oleh-oleh. Segera kami pergi ke seberang jalan Merlion Park, tempat halte bis menuju ke arah Bugis. Tak lama menunggu, bis bernomor 130 yang akan kami tumpangi datang. Dari bis tersebut, kami turun di halte depan Bugis Junction. Setelah makan dan berkeliling, kami kembali ke hostel dengan menaiki lagi bis bernomor 130.

Suasana menunggu bis di halte

4. Hari Kedua di Singapura

Sarapan Pagi

Pagi hari kami sudah bangun dan sarapan di hostel. Menu sarapan yang disediakan adalah sereal dengan susu full cream, ditambah dengan roti panggang dan teh hangat. Cukuplah untuk sarapan. Hal yang menarik di hostel ini adalah para tamu wajib mencuci sendiri piring dan gelas yang sudah selesai digunakan, jadi semacam self-services. Ada pelayan yang selalu mengingatkan kita apabila kita hanya meletakkan piring tanpa mencucinya. Alasannya cukup unik, yakni “ibumu tidak disini jadi bersihkanlah sendiri“. Hahaa 😀

Aturan sarapan pagi di hostel

Garden By the Bay

Setelah sarapan, perjalanan hari kedua kami dimulai dengan wisata ke Garden by the Bay, sebuah taman buatan yang sangat terkenal. Dari hostel kami kembali menaiki bis bernomor 130 dan turun di halte depan Terminal One Raffles Quay. Kemudian kami memasuki terminal dan menunggu kedatangan bis bernomor 400.

Menunggu di Terminal One Raffles Quay

Setelah beberapa lama, bis yang kami tunggu pun tiba. Kami segera naik dan turun di halte di depan pintu masuk Garden by the Bay. Taman buatan ini cukup luas dan anda bisa masuk secara gratis. Namun, ada beberapa area yang berbayar seperti misalnya Cloud Forest, OCBC Skyway, dll. Disediakan pula private tur dimana wisatawan bisa menaiki mobil terbuka yang sudah disediakan pengelola untuk mengelilingi keseluruhan taman ini hanya dengan membayar SGD 8. Karena tujuannya hanya ingin berfoto-foto, maka kami memilih berjalan kaki saja mengitari taman yang luas ini.

Pintu masuk
Garden by the Bay
Jembatan penghubung
Di depan OCBC Skyway

Menuju Vivo City

Setelah berkeliling selama beberapa jam, perut terasa lapar. Kami memutuskan untuk makan siang di vivo city, sebuah mall yang menjadi check point untuk masuk ke Sentosa Island, tujuan kami berikutnya. Dari Garden by the Bay, kami berjalan kaki menuju area selatan taman buatan karena disana terdapat stasiun MRT bawah tanah Bayfront. Cukup ikuti papan petunjuk dan kita bisa tiba di stasiun MRT dengan cepat. Kami menaiki kereta Downtown Line (warna bitu) dan turun di stasiun Chinatown. Kemudian naik kereta North East Line (warna ungu) dan turun di Stasiun HarbourFront. Dari stasiun ini kita tinggal mencari eskalator ke atas untuk mencapai Vivo City mall. Sesampainya di mall, kami mencari food court center. Harga makanan disini tidak terlalu mahal, hampir mirip dengan harga di Bugis, namun masakan disini lebih beragam.

Di dalam stasiun MRT

Menuju Universal Studio Singapore

Setelah selesai makan, kami keluar dari mall dan menunggu bis di halte. Di sana kami menunggu bis RWS 08, bis khusus yang melayani pengantaran ke Sentosa Island. Tarif pulang pergi bis ini adalah SGD 1. Sebenarnya ada beberapa jalur untuk menuju ke Sentosa, seperti menaiki monorail (harga SGD 4) dan Cable Car Sky (harga SGD 15), namun menaiki bis adalah tarif termurah 😀

Bola dunia USS

Di Universal Studio ini terdapat toko pop corn yang sangat terkenal, yaitu Garret Popcorn Shop. Disini kami menemukan popcorn dengan rasa keju dan karamel yang sangat enak. Harganya SGD 5.5

Kembali ke Vivo City

Setelah berkeliling di Sentosa Island, untuk kembali ke hostel kami harus menaiki kembali bis RWS 08 di halte bawah tanah Universal Studio. Dengan bis tersebut kami kembali ke Vivo City mall.

Kembali ke Hostel

Dari halte Vivo City mall, kami bergerak menuju stasiun MRT HarbourFront yang berada di lantai dasar mall. Kami menaiki kereta North East Line (warna ungu) dan turun di stasiun Farrer Park. Karena jarak hostel tidak terlalu jauh, dari stasiun ini kami berjalan kaki sekitar 7 menit untuk mencapai hostel.

Makan Malam di Sekitaran Hostel

Setelah cukup beristirahat dan mandi, kami bergerak untuk mencari makan malam. Di sepanjang jalan di depan hostel, ada beberapa toko makanan china yang tidak terlalu mahal. Kami memutuskan mencoba makan di sini karena harganya cukup murah dan menu yang ditawarkan cukup banyak, mirip seperti warteg karena kita hanya perlu menunjuk-nunjuk saja mau lauk yang mana. Harga per satu item lauk berkisar SGD 1 – SGD 3.

Warung china

Setelah makan, kami mencoba berkeliling di seputaran hostel dan tiba di Mustafa Center. Di sini dijual beraneka macam barang, mulai dari elektronik sampai makanan dan minuman grosir. Teman saya membeli perangkat Google Home di sini karena harganya lebih murah.

5. Hari Ketiga di Singapura

Menuju Botanic Garden

Ini adalah hari terakhir kami di singapura. Kami sarapan dan checkout dari hostel. Agar tidak memberatkan, koper dan tas kami titip sementara di resepsionis hostel. Seperti biasa, kami pergi berwisata melalui halte bis yang berada di depan hostel. Kami menunggu bis nomor 130 untuk turun di halte Bugis. Dari sana, kami menuju stasiun MRT Bugis dan naik kereta Downtown Line (warna biru) dan turun di stasiun MRT Botanic Garden.

Pintu masuk
di atas danau buatan

Menuju Chinatown

Setelah berkeliling di botanic garden, kami menuju Chinatown untuk makan siang. Kami kembali ke stasiun MRT Botanic Garden dan menaiki kereta Downtown Line (warna biru) untuk turun di stasiun MRT Chinatown. Sejauh mata memandang, kawasan ini cukup ramai oleh orang-orang China. Oh iya, karena saldo di kartu EZ Link kami mulai menipis, kami men-top up saldo sebesar SGD 5 di toko 7 Eleven yang ada di Chinatown. Saldo EZ Link bisa dipantau melalui smartphone Android yang memiliki fitur NFC.

Suasana di Chinatown
Kedai Old Chang Kee

Harga makanan di Chinatown, khususnya di dalam area Chinatown Food Street cukup murah dengan makanan yang sangat menggoda. Selain itu, terdapat banyak jajanan dan barang-barang yang bisa menjadi oleh-oleh dijual di sini. Beberapa teman saya bahkan sangat ketagihan dengan jajanan dari kedai Old Chang Kee.

Menuju Orchard Road

Puas berkeliling di Chinatown, kami jalan-jalan menuju Orchard road, tempat wisata belanja barang-barang bermerk. Kami ke sana tidak untuk berbelanja, namun hanya ingin menghabiskan waktu untuk menunggu keberangkatan pesawat. Dari stasiun MRT Chinatown, kami naik kereta North East Line (warna ungu) dan turun di stasiun Dhoby Ghaut. Kemudian naik kereta North South Line (warna merah) dan turun di stasiun Orchard.

Awalnya kami ingin menaiki ION Sky yang ada pada Orchard mall, namun ternyata itu berbayar, padahal dulunya gratis (kata review di internet). Yah terpaksa kami hanya berjalan-jalan di sekitar Orchard road. Setelah waktu semakin sore, kami kembali ke hostel untuk mengambil barang-barang kami.

Menuju ke Changi Airport

Setelah kembali untuk mengambil koper dan barang-barang lainnya di hostel, kami bergerak menuju Changi Airport. Dari hostel kami menaiki bis 130 untuk turun di halte Bugis. Kemudian kami masuk ke mall Bugis untuk makan malam di food court center.

Makan bakmi di Bugis, harga makanan SGD 5 dengan minuman es teh SGD 1

Setelah makan, kami turun ke lantai bawah tanah mall untuk masuk ke stasiun MRT Bugis. Dari sini kami naik kereta East West Line (warna hijau) dan turun untuk transit di stasiun Tanah Merah. Selanjutnya kami naik kereta MRT Bandara (hanya ada 1 kereta ke bandara) dan turun di stasiun MRT Changi Airport. Karena pesawat kami berada di Terminal 4, maka kami memanfaatkan bis bandara untuk berpindah dari Terminal 2 ke Terminal 4.

Kartu EZ Link yang saya gunakan masih menyisakan sedikit saldo seperti gambar di bawah. Saldo tersebut bisa diuangkan kembali di Airport dengan syarat kartu akan diambil juga oleh staff EZ Link. Saya rasa sayang sekali apabila kartu EZ Link ini diambil karena mungkin saja beberapa waktu ke depan saya ada kesempatan lagi ke Singapura sehingga kartu ini masih bisa digunakan.

Total Bujet

Dari cerita perjalanan di atas, bisa diakumulasikan total pengeluaran kami per orang untuk travelling ke singapura. Pengeluaran masih bisa bertambah jika anda membeli oleh-oleh atau makanan cemilan lain.

NomorItemBiaya
1Tiket Pesawat Pulang PergiRp 1.450.000,-
2Hostel 2 Malam Rp 495.000,-
3EZ Link (+ 2 kali topup)SGD 25
4SIM Card (1 untuk 2 orang)SGD 6
56x Makan (@ SGD 6)SGD 36

Total keseluruhan per orang: Rp 1.945.000 + SGD 67 (kurs Rp 10.455,-) = Rp 2.645.485,-

Your Review

Comments

comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*